Oleh : La Umuri
Pak
Pongingila berteduh di kolong batu Molii Sahatu ketika rintik hujan sore mulai
membasahi sekelilingnya. Di balik naungan batu alam yang kokoh itu, tempat ia
biasa bernaung dari terik dan hujan, kehangatan hadir saat Wasintagola tetangga
sebelah rumahnya mengantarkan secangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap
tipis.
"Diminum
dulu, Pak Pongingila. Nanti keburu dingin," ujar Wasintagola dengan senyum
hangat, lalu berjalan kembali tanpa meminta balasan apa-apa, selain anggukan
terima kasih.
Pak
Pongingila memandangi uap teh itu. Di usianya yang matang, pengalaman hidup
mengajarkannya untuk senantiasa bersyukur. Anak tunggalnya, Dodi, sudah lima tahun
merantau di kota besar dan jarang sekali punya waktu untuk pulang. Kadang, rasa
rindu dan sepi mengintai di sudut hatinya. Namun sore itu, sembari menyeruput
teh hangat di bawah kolong batu Molii Sahatu, Pak Pongingila menyadari sesuatu
yang sederhana.
Kebahagiaan
di desa ini tidak pernah datang dari kemewahan atau berita-berita besar.
Kebahagiaan itu hadir secara diam-diam dalam momen-momen kecil yang jujur dan
mengakar. Rasa bahagia itu tumbuh semakin mekar melalui tradisi pohamba-hamba
(gotong royong), di mana setiap warga dengan ikhlas saling bahu-membahu
membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan.
Kebahagiaan itu menjelma saat akhir pekan tiba. Bersama keluarga, teman, dan kerabat, mereka berlarian menuju pesisir Pantai Molii Sahatu di Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi. Menyelam dan berenang di laut lepas yang jernih, menyaksikan keajaiban warna-warni terumbu karang serta tarian kecil ikan-ikan yang berenang bebas di sela jemari. Gelak tawa yang membumbung di atas riak air laut menjadi penawar paling ampuh untuk segala penat.
Di sela-sela bebatuan pantai, memancar keajaiban alam berupa mata air tawar yang mengalir jernih. Molii Sahatu yang berarti seratus mata air bukan hanya memberi kesegaran alami di tepi laut, tetapi juga menyimpan keyakinan mendalam bagi masyarakat setempat. Air yang terus memancar ini diyakini membawa berkah bagi segala hal, termasuk menjadi pemikat takdir bagi muda-mudi yang sedang mengikhtiarkan jodoh menuju jenjang pernikahan.
Tidak
jauh dari sana, para pemuda desa tampak asyik memacu adrenalin. Kebahagiaan
mereka memuncak saat berhasil menunggangi ombak, main selancar dengan papan
seadanya di Pantai Molii Sahatu dan menikmati gulungan ombak yang sempurna dan
menantang.
Sementara
itu, di bibir pantai yang landai, anak-anak dan para ibu sibuk mengais pasir
putih yang halus. Kebahagiaan sederhana terpancar saat bersama-sama mencari kikiala dan kafoyi-foyi
(kerang putih kecil). Ada pula momen kekeluargaan saat nelayan dan warga
bahu-membahu melakukan hejari pakente
memasang jaring ikan di sepanjang pesisir hingga menanti air laut
surut untuk memanen hasil tangkapan bersama.
Tak
kalah berharganya saat berada di kebun bersama Waompu (Nenek). Setelah
berjam-jam bahu-membahu mencabut rumput liar di antara bedengan tanah, mereka
duduk beristirahat di bawah rindangnya pohon. Waompu menyajikan hasil bumi yang baru saja dipanen sederhana,
berupa manga-manga dan opa-opa (umbi-umbian)
rebus yang masih hangat. Menikmati rezeki tanah sendiri bersama sosok yang
penuh kasih sayang memberikan rasa syukur yang begitu mendalam.
Sore
menjelang malam menjadi ajang keceriaan tersendiri bagi warga. Para pemuda dan
kaum pria berkumpul memeriahkan permainan tradisional Hekansalu, beradu
ketangkasan mengadu tiga hingga empat batok kayu seukuran mouse dijejer
rapi dan dibidik melalui ibu jari kali dengan penuh gelak tawa dan sorak
gembira. Tak jauh dari mereka, para muda-mudi juga memainkan Hedha roji,
permainan seru menggunakan buah kemiri yang memupuk rasa kebersamaan.
Ketika malam tiba dan bulan purnama
memancarkan cahayanya yang lembut di atas desa, suasana berubah menjadi makin
magis. Kebahagiaan mengalir lewat tradisi Kabhanti. Di bawah pendar
rembulan, terdengar alunan pantun berlagu yang diawali oleh suara pria dengan
penuh hormat:
Pria:
"TABEA
WALIMBO NUMIA ANE KUBHUMANTI SABHAE"
(Tabe, di
daerahnya orang, saya ingin menyampaikan sesuatu)
Dari kejauhan, alunan itu bersambut
hangat oleh suara lembut seorang wanita:
Wanita:
"SABHAE
DUABHAEMO SIMANO TEBHANTI LEAMA"
(Satu atau
dua hal yang ingin disampaikan, yang penting untuk kebaikan)
Lantunan
pantun bersahut-sahutan itu menembus keheningan malam, menyampaikan pesan
kesantunan, kehangatan, serta petuah hidup yang melintasi teras-teras rumah
warga.
Di sudut teras rumah, anggota
keluarga duduk bersantai diiringi hembusan angin malam yang sejuk dan suara
jangkrik bersahut-sahutan. Rehat sejenak sambil menyeruput teh hangat, bertukar
cerita tentang kejadian seharian, atau sekadar menikmati keheningan bersama
tanpa perlu terburu-buru oleh waktu. Di teras sederhana itu, kehangatan
keluarga terasa begitu nyata dan menenangkan.
Di
lain kesempatan, warga juga berkumpul di teras pos ronda. Pak Ndanda membawa
sekeranjang jagung rebus dari kebunnya, sementara Mas Anamoane menyeduh kopi
hitam untuk semua orang. Tak ada pembicaraan tentang target pekerjaan yang
menumpuk atau keluhan beban hidup yang berat. Yang ada hanyalah cerita jenaka
masa lalu, saling bertukar kabar kesehatan, dan gelak tawa tulus yang memecah
keheningan malam.
Saat
berjalan pulang menyusuri jalan setapak yang diterangi cahaya bulan, Pak Pongingila
menghentikan langkahnya sejenak. Ia melihat lampu-lampu rumah tetangganya yang
berpendar hangat dari balik pepohonan. Ia menghela napas panjang dan tersenyum
tulus.
Di
tempat yang jauh dari riuk pikuk kota ini, ia tidak pernah merasa benar-benar
sendiri. Karena di sini, kebahagiaan bukanlah tentang seberapa banyak yang kita
miliki, melainkan tentang seberapa hangat kita saling merawat dalam pohamba-hamba,
membasuh wajah di Molii Sahatu, riang bermain Hekansalu, melantunkan
Kabhanti di malam rembulan, dan bersyukur atas setiap detik bersama
orang-orang tercinta.

Tambah Komentar Tutup Komentar