Selasa, 13 Oktober 2026

Halo Warga Desa, Bagaimana Caramu Menemukan Kebahagiaan?

 Menemukan Kebahagiaan di Desa

Oleh : La Umuri

Pak Pongingila berteduh di kolong batu Molii Sahatu ketika rintik hujan sore mulai membasahi sekelilingnya. Di balik naungan batu alam yang kokoh itu, tempat ia biasa bernaung dari terik dan hujan, kehangatan hadir saat Wasintagola tetangga sebelah rumahnya mengantarkan secangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis.

"Diminum dulu, Pak Pongingila. Nanti keburu dingin," ujar Wasintagola dengan senyum hangat, lalu berjalan kembali tanpa meminta balasan apa-apa, selain anggukan terima kasih.

Pak Pongingila memandangi uap teh itu. Di usianya yang matang, pengalaman hidup mengajarkannya untuk senantiasa bersyukur. Anak tunggalnya, Dodi, sudah lima tahun merantau di kota besar dan jarang sekali punya waktu untuk pulang. Kadang, rasa rindu dan sepi mengintai di sudut hatinya. Namun sore itu, sembari menyeruput teh hangat di bawah kolong batu Molii Sahatu, Pak Pongingila menyadari sesuatu yang sederhana.

Kebahagiaan di desa ini tidak pernah datang dari kemewahan atau berita-berita besar. Kebahagiaan itu hadir secara diam-diam dalam momen-momen kecil yang jujur dan mengakar. Rasa bahagia itu tumbuh semakin mekar melalui tradisi pohamba-hamba (gotong royong), di mana setiap warga dengan ikhlas saling bahu-membahu membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan.

Kebahagiaan itu menjelma saat akhir pekan tiba. Bersama keluarga, teman, dan kerabat, mereka berlarian menuju pesisir Pantai Molii Sahatu di Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi. Menyelam dan berenang di laut lepas yang jernih, menyaksikan keajaiban warna-warni terumbu karang serta tarian kecil ikan-ikan yang berenang bebas di sela jemari. Gelak tawa yang membumbung di atas riak air laut menjadi penawar paling ampuh untuk segala penat.

Di sela-sela bebatuan pantai, memancar keajaiban alam berupa mata air tawar yang mengalir jernih. Molii Sahatu yang berarti seratus mata air bukan hanya memberi kesegaran alami di tepi laut, tetapi juga menyimpan keyakinan mendalam bagi masyarakat setempat. Air yang terus memancar ini diyakini membawa berkah bagi segala hal, termasuk menjadi pemikat takdir bagi muda-mudi yang sedang mengikhtiarkan jodoh menuju jenjang pernikahan.

Tidak jauh dari sana, para pemuda desa tampak asyik memacu adrenalin. Kebahagiaan mereka memuncak saat berhasil menunggangi ombak, main selancar dengan papan seadanya di Pantai Molii Sahatu dan menikmati gulungan ombak yang sempurna dan menantang.

Sementara itu, di bibir pantai yang landai, anak-anak dan para ibu sibuk mengais pasir putih yang halus. Kebahagiaan sederhana terpancar saat bersama-sama mencari kikiala dan kafoyi-foyi (kerang putih kecil). Ada pula momen kekeluargaan saat nelayan dan warga bahu-membahu melakukan hejari pakente  memasang jaring ikan di sepanjang pesisir hingga menanti air laut surut untuk memanen hasil tangkapan bersama.

Tak kalah berharganya saat berada di kebun bersama Waompu (Nenek). Setelah berjam-jam bahu-membahu mencabut rumput liar di antara bedengan tanah, mereka duduk beristirahat di bawah rindangnya pohon. Waompu menyajikan hasil bumi yang baru saja dipanen sederhana, berupa manga-manga dan opa-opa (umbi-umbian) rebus yang masih hangat. Menikmati rezeki tanah sendiri bersama sosok yang penuh kasih sayang memberikan rasa syukur yang begitu mendalam.

Sore menjelang malam menjadi ajang keceriaan tersendiri bagi warga. Para pemuda dan kaum pria berkumpul memeriahkan permainan tradisional Hekansalu, beradu ketangkasan mengadu tiga hingga empat batok kayu seukuran mouse dijejer rapi dan dibidik melalui ibu jari kali dengan penuh gelak tawa dan sorak gembira. Tak jauh dari mereka, para muda-mudi juga memainkan Hedha roji, permainan seru menggunakan buah kemiri yang memupuk rasa kebersamaan.

Ketika malam tiba dan bulan purnama memancarkan cahayanya yang lembut di atas desa, suasana berubah menjadi makin magis. Kebahagiaan mengalir lewat tradisi Kabhanti. Di bawah pendar rembulan, terdengar alunan pantun berlagu yang diawali oleh suara pria dengan penuh hormat:

Pria:

"TABEA WALIMBO NUMIA ANE KUBHUMANTI SABHAE"

(Tabe, di daerahnya orang, saya ingin menyampaikan sesuatu)

Dari kejauhan, alunan itu bersambut hangat oleh suara lembut seorang wanita:

Wanita:

"SABHAE DUABHAEMO SIMANO TEBHANTI LEAMA"

(Satu atau dua hal yang ingin disampaikan, yang penting untuk kebaikan)

Lantunan pantun bersahut-sahutan itu menembus keheningan malam, menyampaikan pesan kesantunan, kehangatan, serta petuah hidup yang melintasi teras-teras rumah warga.

Di sudut teras rumah, anggota keluarga duduk bersantai diiringi hembusan angin malam yang sejuk dan suara jangkrik bersahut-sahutan. Rehat sejenak sambil menyeruput teh hangat, bertukar cerita tentang kejadian seharian, atau sekadar menikmati keheningan bersama tanpa perlu terburu-buru oleh waktu. Di teras sederhana itu, kehangatan keluarga terasa begitu nyata dan menenangkan.

Di lain kesempatan, warga juga berkumpul di teras pos ronda. Pak Ndanda membawa sekeranjang jagung rebus dari kebunnya, sementara Mas Anamoane menyeduh kopi hitam untuk semua orang. Tak ada pembicaraan tentang target pekerjaan yang menumpuk atau keluhan beban hidup yang berat. Yang ada hanyalah cerita jenaka masa lalu, saling bertukar kabar kesehatan, dan gelak tawa tulus yang memecah keheningan malam.

baca juga https://www.kompasiana.com/laumuri2205/6acdead334777c3d17296706/warga-desa-bagaimana-caramu-menemukan-kebahagiaan#goog_rewarded

Saat berjalan pulang menyusuri jalan setapak yang diterangi cahaya bulan, Pak Pongingila menghentikan langkahnya sejenak. Ia melihat lampu-lampu rumah tetangganya yang berpendar hangat dari balik pepohonan. Ia menghela napas panjang dan tersenyum tulus.

Di tempat yang jauh dari riuk pikuk kota ini, ia tidak pernah merasa benar-benar sendiri. Karena di sini, kebahagiaan bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan tentang seberapa hangat kita saling merawat dalam pohamba-hamba, membasuh wajah di Molii Sahatu, riang bermain Hekansalu, melantunkan Kabhanti di malam rembulan, dan bersyukur atas setiap detik bersama orang-orang tercinta.


Tambah Komentar Tutup Komentar

Disqus Comments