Kapan dan dimana Terakhir Kali saya Menangis?
Oleh : La Umuri
Menangis sering kali dianggap sebagai
tanda kelemahan, padahal dalam realitas kehidupan, air mata adalah salah satu
mekanisme alami paling jujur yang dimiliki manusia. Pernahkah Anda benar-benar
melempar pertanyaan ini kepada diri sendiri: "Kapan terakhir kali saya
menangis?"
Bagi sebagian orang, jawabannya mungkin baru semalam. Bagi yang
lain, mungkin beberapa bulan lalu, atau bahkan bertahun-tahun yang lalu hingga
mereka lupa bagaimana rasanya. karena mungkin beban pekerjaan,
kegagalan, atau kekecewaan duniawi. Namun bagi saya tidak ingat kapan terakhir kali menangis, karena hampir setiap malam air mata terbaik itu masih hadir, tumpah dalam heningnya malam saat dahi bersujud di atas sajadah,
membasahi kain tempat bersimpuh ketika mengingat betapa banyaknya dosa dan
kerinduan yang membuncah.
Air Mata Penyesalan
di Atas Sajadah
Ada perbedaan mendasar antara menangis
karena urusan dunia dan menangis dalam kepasrahan di hadapan Sang Pencipta pada
Qiyamul Lail (shalat malam).
Ketika riuh aktivitas siang hari telah
reda dan dunia tertidur lelap, shalat malam menjadi ruang paling sunyi
sekaligus paling jujur untuk bersimpuh. Di situlah, cermin kehidupan seolah
diputar kembali, memperlihatkan betapa rapuhnya kita sebagai manusia yang tak
luput dari salah:
- Kerinduan
dan Dosa kepada Orang Tua: Mengingat Ayah dan Ibu yang kini
telah berpulang ke Rahmatullah. Rasa rindu yang mendalam bercampur dengan
penyesalan apakah dahulu kita sudah cukup berbakti? Adakah tutur kata atau
sikap yang pernah melukai hati mereka semasa hidup?
- Khilaf
kepada Keluarga Inti: Mengingat kesalahan pada istri
yang setia mendampingi, serta anak-anak dan menantu serta cucu-cucu yang
menggantungkan teladan kepada kita. Sudahkah kita menjadi pelindung dan
pembimbing yang sabar bagi mereka?
- Kekhilafan
kepada Saudara dan Tetangga: Menyadari silaturahmi yang
mungkin pernah renggang, prasangka, atau hak-hak tetangga dan saudara
dekat yang tanpa sengaja pernah terabaikan.
- Tanggung
Jawab dalam Pekerjaan: Mengingat relasi professional kesalahan
kepada pimpinan, ketidaksempurnaan dalam menjalankan amanah, hingga
perselisihan kecil dengan rekan kerja.
Saat seluruh bayangan dosa dan kekhilafan saya itu hadir berurutan, dada terasa sesak. Kata-kata tak lagi sanggup mewakili penyesalan, hingga akhirnya hanya air mata yang menetes membasahi sajadah memohon ampunan pada Sang Pencipta.
Ketika Jabat Tangan
Berganti Tadahan Doa
Saya semenjak Kehilangan kedua orang tua meninggalkan ruang
hampa yang tak pernah bisa diisi oleh siapa pun. Dalam setiap detik kerinduan
itu, saya menyadari betapa waktu telah merenggut momen-momen hangat yang dahulu
mungkin terasa biasa:
Jabat tangan Ibu kini telah berganti
menjadi tadahan doa. Ciuman tangan dan keningnya yang teduh itu telah beralih
menjadi usapan pada nisan yang bisu.
Di hadapan nisan dan di atas sajadah
malam, hanya satu bisikan yang sanggup terucap dari kedalaman jiwa:
"Maafkan anakmu ini, Ayah, Ibu...
jika tahun ini hanya Al-Fatihah yang bisa kukirimkan sebagai pengganti rindu
yang membuncah. Nggalamo dinihi kumoawa..." (Semoga kita
dapat bertemu, walau hanya dalam mimpi).
Mengapa Air Mata Itu
Sangat Berharga?
Secara ilmiah dan psikologis, air mata
emosional membantu merilis beban mental dan menetralkan ketegangan saraf. Namun
secara spiritual, air mata di atas sajadah memiliki kedudukan yang sangat
mulia:
- Pembersih
Jiwa:
Air mata yang menetes karena rasa takut kepada Allah dan penyesalan atas
dosa berfungsi melunakkan hati yang keras.
- Wujud
Cinta dan Doa Murni: Tangisan rindu untuk Ayah dan Ibu
bukan sekadar kesedihan, melainkan wujud cinta abadi dan doa paling murni
yang dikirimkan menembus batas alam.
- Pendorong
Perbaikan Diri (Islaah): Penyesalan atas kesalahan kepada
sesama (istri, anak, menantu, cucu, saudara, tetangga, pimpinan, dan rekan
kerja) menjadi cermin untuk memohon maaf dan memperbaiki sikap dalam
berinteraksi sehari-hari.
Sebuah Perenungan
Jika terakhir kali Anda menangis adalah
di atas sajadah meratapi dosa masa lalu, mendoakan Ayah dan Ibu yang telah
tiada, serta menyesali khilaf kepada keluarga dan sesama bersyukurlah. Itu
adalah tanda bahwa hati Anda tidak membatu; hati itu masih hidup, lembut, dan
peka terhadap kebenaran.

Tambah Komentar Tutup Komentar