Tepat
pada 1 Maret 1996, sebuah langkah besar dimulai. Mengenakan seragam abdi
negara untuk pertama kalinya sebagai CPNS, tidak pernah terbayangkan bahwa
perjalanan ini akan membentang sejauh tiga puluh tahun, melintasi pulau, dan
merajut berbagai tanggung jawab di bawah panji Kementerian Agama.
Langkah
Awal di Tanah Ambon
Perjalanan
ini dimulai dari ruang kelas di MIN 1 Ambon Kota Madya Ambon Provinsi Maluku. Di sana, saya belajar bahwa
menjadi guru bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan menanamkan karakter.
Deburan ombak Teluk Ambon menjadi saksi bisu dedikasi awal seorang pendidik
muda yang bercita-cita mencerdaskan anak bangsa.
Menempa
Kepemimpinan: Dari Baubau ke Buton
Garis
takdir kemudian membawa saya menjadi nakhoda di MIN 1 Baubau Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara. Peran
sebagai Kepala Madrasah mengajarkan saya tentang seni mengelola manusia dan
visi. Pengalaman tersebut diperkaya saat saya dipercaya menjadi Pengawas Pendidikan Agam Islam (PAI) Kabupaten Buton, di mana sudut pandang saya meluas dari mengelola satu
sekolah menjadi menjaga kualitas pendidikan agama di satu daerah.
Membangun
Fondasi di Tanah Kelahiran: Menanam Benih Peradaban
Panggilan untuk membangun tanah kelahiran, Wakatobi, tak terbendung. Selain dedikasi struktural sebagai Kepala MIN 1 Wakatobi dan Kepala MTsN 1 Wakatobi, hati saya terpanggil untuk melahirkan warisan pendidikan yang nyata bagi masyarakat. Melalui semangat kemandirian, saya berikhtiar mendirikan berbagai lembaga pendidikan mulai dari akar rumput: Taman Kanak-Kanak (TK) Nurul Jadid Patuno dan beberapa Raudhatul Athfal (RA) Nurul Jadid yang tersebar dibeberapa desa di Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi sebagai fondasi awal anak-anak kita.
Perjuangan
ini pun berlanjut dengan pendirian Madrasah Tsanawiyah (MTs) Wangi-Wangi
Timur hingga Madrasah Aliyah (MA) Wisata Kelautan Untu Melambi di Desa Patuno Kecamatan Wangi-Wangi,
sebuah langkah strategis untuk menyelaraskan potensi daerah dengan nilai-nilai
keislaman. Tak berhenti di jalur formal, saya pun mendirikan berbagai unit pendidikan
non-formal guna memastikan akses ilmu bagi seluruh lapisan umat. Di
institusi-institusi inilah hati saya tertambat melihat mereka tumbuh adalah
upah tertinggi dari sebuah pengabdian.
Menjadi
Pilar Institusi
Transisi
dari dunia pendidikan ke manajerial struktural membawa tantangan baru. Amanah
sebagai Kepala Subbagian Tata Usaha (Kasubbag TU) melatih ketelitian dan
manajerial administratif, sementara posisi Kepala Seksi Pendidikan Islam
(Kasi Pendis) mengembalikan saya pada khitah perjuangan memajukan
pendidikan madrasah dan pondok pesantren secara lebih strategis.
Puncak
Pengabdian: Sang Perencana
Kini,
tiga puluh tahun telah berlalu. Di posisi sebagai Perencana Ahli Madya pada
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wakatobi, saya berdiri di titik di mana
pengalaman masa lalu bertemu dengan visi masa depan. Merencanakan bukan sekadar
menyusun angka dan program, melainkan memastikan setiap kebijakan memiliki
dampak nyata bagi umat.
Penutup:
Tetap Ikhlas, Tetap Beramal
Tiga
puluh tahun (1996–2026) bukanlah waktu yang singkat. Ada lelah yang terbayar
oleh senyum siswa, ada tantangan yang runtuh oleh kerja keras tim, dan ada doa
yang senantiasa menguatkan.
Kementerian
Agama bagi H. La Umuri bukan sekadar tempat bekerja, melainkan ladang ibadah. Di usia
pengabdian yang ke-30 ini, izinkan saya menundukkan kepala sejenak bersyukur
kepada Allah SWT atas kesehatan dan kesempatan, serta berterima kasih kepada
keluarga dan rekan sejawat yang setia mendampingi. Perjalanan belum usai;
semangat "Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju"
akan terus saya bawa dalam setiap rencana dan amal nyata.
Admin.

Tambah Komentar Tutup Komentar