Minggu, 01 Maret 2026

Tiga Dekade "Ikhlas Beramal": Refleksi 30 Tahun Pengabdian H. La Umuri

Wangi-Wangi, 1 Maret 2026

Tepat pada 1 Maret 1996, sebuah langkah besar dimulai. Mengenakan seragam abdi negara untuk pertama kalinya sebagai CPNS, tidak pernah terbayangkan bahwa perjalanan ini akan membentang sejauh tiga puluh tahun, melintasi pulau, dan merajut berbagai tanggung jawab di bawah panji Kementerian Agama.

Langkah Awal di Tanah Ambon

Perjalanan ini dimulai dari ruang kelas di MIN 1 Ambon Kota Madya Ambon Provinsi Maluku. Di sana, saya belajar bahwa menjadi guru bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan menanamkan karakter. Deburan ombak Teluk Ambon menjadi saksi bisu dedikasi awal seorang pendidik muda yang bercita-cita mencerdaskan anak bangsa.

Menempa Kepemimpinan: Dari Baubau ke Buton 

Garis takdir kemudian membawa saya menjadi nakhoda di MIN 1 Baubau Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara. Peran sebagai Kepala Madrasah mengajarkan saya tentang seni mengelola manusia dan visi. Pengalaman tersebut diperkaya saat saya dipercaya menjadi Pengawas Pendidikan Agam Islam (PAI) Kabupaten Buton, di mana sudut pandang saya meluas dari mengelola satu sekolah menjadi menjaga kualitas pendidikan agama di satu daerah.

Membangun Fondasi di Tanah Kelahiran: Menanam Benih Peradaban

Panggilan untuk membangun tanah kelahiran, Wakatobi, tak terbendung. Selain dedikasi struktural sebagai Kepala MIN 1 Wakatobi dan Kepala MTsN 1 Wakatobi, hati saya terpanggil untuk melahirkan warisan pendidikan yang nyata bagi masyarakat. Melalui semangat kemandirian, saya berikhtiar mendirikan berbagai lembaga pendidikan mulai dari akar rumput: Taman Kanak-Kanak (TK) Nurul Jadid Patuno dan beberapa Raudhatul Athfal (RA) Nurul Jadid yang tersebar dibeberapa desa di Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi sebagai fondasi awal anak-anak kita.

Perjuangan ini pun berlanjut dengan pendirian Madrasah Tsanawiyah (MTs) Wangi-Wangi Timur hingga Madrasah Aliyah (MA) Wisata Kelautan Untu Melambi di Desa Patuno Kecamatan Wangi-Wangi, sebuah langkah strategis untuk menyelaraskan potensi daerah dengan nilai-nilai keislaman. Tak berhenti di jalur formal, saya pun mendirikan berbagai unit pendidikan non-formal guna memastikan akses ilmu bagi seluruh lapisan umat. Di institusi-institusi inilah hati saya tertambat melihat mereka tumbuh adalah upah tertinggi dari sebuah pengabdian.

Menjadi Pilar Institusi 

Transisi dari dunia pendidikan ke manajerial struktural membawa tantangan baru. Amanah sebagai Kepala Subbagian Tata Usaha (Kasubbag TU) melatih ketelitian dan manajerial administratif, sementara posisi Kepala Seksi Pendidikan Islam (Kasi Pendis) mengembalikan saya pada khitah perjuangan memajukan pendidikan madrasah dan pondok pesantren secara lebih strategis.

Puncak Pengabdian: Sang Perencana

Kini, tiga puluh tahun telah berlalu. Di posisi sebagai Perencana Ahli Madya pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wakatobi, saya berdiri di titik di mana pengalaman masa lalu bertemu dengan visi masa depan. Merencanakan bukan sekadar menyusun angka dan program, melainkan memastikan setiap kebijakan memiliki dampak nyata bagi umat.

Penutup: Tetap Ikhlas, Tetap Beramal

Tiga puluh tahun (1996–2026) bukanlah waktu yang singkat. Ada lelah yang terbayar oleh senyum siswa, ada tantangan yang runtuh oleh kerja keras tim, dan ada doa yang senantiasa menguatkan.

Kementerian Agama bagi H. La Umuri bukan sekadar tempat bekerja, melainkan ladang ibadah. Di usia pengabdian yang ke-30 ini, izinkan saya menundukkan kepala sejenak bersyukur kepada Allah SWT atas kesehatan dan kesempatan, serta berterima kasih kepada keluarga dan rekan sejawat yang setia mendampingi. Perjalanan belum usai; semangat "Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju" akan terus saya bawa dalam setiap rencana dan amal nyata.

Admin.

 



 

Tambah Komentar Tutup Komentar

Disqus Comments