Gema takbir lebaran Idul Fitri tahun 2026 ini membawa getaran yang benar-benar berbeda di palung hati. Di sudut ruang tamu yang biasanya ramai, kini ada kesunyian yang menyesakkan. Aku merindukan sosok Wa Siti Aisya, ibuku tercinta yang oleh keluarga besar dengan takzim disapa "Wa Ibu". Meski beliau seorang ibu rumah tangga biasa, beliau adalah magnet dan idola bagi seluruh keluarga dan kerabat. Kehangatannya, nasihatnya, dan caranya merangkul semua orang membuat sosok "Wa Ibu" tak tergantikan. Kini, tak ada lagi tangan lembutnya yang bisa kucium, tak ada lagi senyum tulusnya yang mendamaikan riuh rendah Lebaran.
Bersamanya, aku pun
merindukan sosok ayahku, La Abu.
Sebagai seorang pensiunan guru ASN, Ayah adalah kompas hidup yang selalu
menginspirasi karena kelembutannya serta dengan ketegasan dan integritasnya.
Beliau bukan hanya orang tua, tapi guru kehidupan yang mengajarkan arti
pengabdian.
Dulu, Lebaran adalah tentang
berebut jabat tangan dengan mereka berdua. Tentang mendengar senda gurau
"Wa Ibu" yang mencairkan suasana dan petuah bijak Ayah La Abu yang
menguatkan jiwa. Kini, kemenangan ini terasa hambar. Jabat tangan telah berganti
menjadi tadahan doa, ciuman tangan dan keningnya yang teduh itu telah beralih
menjadi usapan pada nisan yang bisu. Maafkan anakmu ini, Ayah, Ibu... jika
tahun ini hanya Al-Fatihah yang bisa kukirimkan sebagai pengganti rindu yang
membuncah. Nggalamo dinihi kumoawa
(semoga bertemu walau dalam mimpi)
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026M, "Mohon Maaf Lahir Batin"
Penulis : H. La Umuri, anak kedua dari lima bersaudara (Wa Umu- H.La Umuri- Mashuri- H.Amari dan Mumini) dari pasangan Wa Siti Aisya dan La Abu.

Tambah Komentar Tutup Komentar